Selamat Datang

Friday, September 19, 2014

Bullying sudah sejak lama dianggap sebagai perbuatan pengecut dan pelampiasan dari masalah internal keluarga atau masalah lingkungan sosial. Tetapi, sebuah penelitian menyebutkan bahwa bullying itu bukan merupakan respons buruk tubuh tetapi merupakan proses yang melindungi tubuh.

Duke University mengikutkan 1000 subjek percobaan dengan latar belakang kehidupan yang berbeda-beda, dimulai dari saat mereka berumur 9 tahun dan berakhir saat mereka menginjak umur 20-an. Berdasarakan subjek tersebut, peneliti mengidentifikasi pelaku bullying, korban bullying, dan yang merupakan keduanya atau bukan keduanya. Pelaku bullying yang “murni” artinya selalu melakukan hal itu didapatkan mempunyai level C-reactive protein (CRP) terendah, yang merupakan substansi yang mempunyai hubungan dengan inflamasi dan penyakit jantung.

Poster stop bullying (http://shoreline-eatingdisorders.com/just-right-passage-long-term-effects-bullying/)


Anda mungkin berpikir bahwa pelaku bullying ini memang sehat dari dulunya sehingga bisa menakuti yang lain. Berdasarkan data peneliti, itu bukanlah penyebabnya. CRP baru menurun ketika pelaku bullying ini melakukan aksinya, yang artinya bahwa bullying ini dapat menstimulasi kesehatan yang baik bagi pelakunya.

Pin It


0 comments:

Post a Comment